RSS

Ayo! Selamatkan THRESHER SHARK di Pulau Weh-Sabang

13 Nov

shark1Alopias pelagicus
Ikan hiu tikus, hiu monyet.
Pelagic thresher shark

A. Klasifikasi
Filum : Chordata
Kelas : Chondrichthyes
Sub–Kelas : Elasmobranchii
Bangsa : Carcharhiniformes
Suku : Alopiidae
Marga : Alopias
Spesies : Alopias pelagicus Nakamura, 1935

B. Morfologi

  1. ekor bagian atas hampir sepanjang ukuran tubuhnya
  2. bentuk kepala melengkung di bagian antara mata, tidak terdapat lekukan yang dalam di bagian tengkuk
  3. mata agak lebar, posisinya hampir ditengah-tengah bagian sisi kepala
  4. pangkal sirip punggung pertama lebih dekat dengan ujung belakang sirip dada dari pada dengan dasar sirip perut
  5. warna putih pada bagian perut tidak sampai ke dasar sirip dada

C. Habitat dan Penyebaran
Merupakan spesies ikan hiu oseanik yang hidup di lapisan permukaan hingga kedalaman 152 m (White et al., 2006). Sebaran spesies hiu ini diketahui sangat luas di wilayah perairan Indo Pasifik. Di perairan Indonesia, spesies hiu ini tercatat ditemukan di perairan Samudera Indonesia, mulai dari barat Sumatera hingga selatan Nusa Tenggara, Laut Cina Selatan, Laut Pasifik, Selat Makassar, Laut Sulawesi, Laut Banda dan Laut Arafura.

D. Status
Di Indonesia, Alopias pelagicus sudah ditetapkan sebagai salah satu satwa yang dilindungi sejak tanggal 30 Juni 2012 dengan mengadopsi resolusi Indian Ocean Tuna Comission, IOTC 10/12; IUCN – Vulnerable.

E. Ancaman
Alopias pelagicus merupakan salah satu spesies ikan hiu yang umum tertangkap sebagai hasil tangkapan sampingan di dalam perikanan tuna dan pelagis besar. Secara umum, terjadi penurunan jumlah hasil tangkapan terhadap spesies ikan hiu ini secara nasional dalam kurun sepuluh tahun (2002-2011) yaitu mencapai 300%. Penurunan jumlah hasil tangkapan tersebut dipengaruhi oleh banyak faktor seperti jumlah armada penangkapan yang menurun hingga adanya dugaan penurunan populasi. Karena sifat biologi hiu yang pada umumnya berumur panjang, pertumbuhannya lambat, jumlah anak yang dihasilkan sedikit dan membutuhkan waktu yang lama untuk mencapai dewasa, maka keberadaan populasinya di alam sangat mudah terancam apabila terjadi tangkapan lebih (overfishing).

F. Saran
Diperlukan adanya pengawasan terhadap penegakan peraturan perundangan yang sudah dibuat dan peningkatan kesadaran bagi masyarakat nelayan untuk tidak melakukan penangkapan terhadap spesies ikan ini.

—————————————————————————————————————————

shark1Alopias superciliosus
Hiu lutung, hiu pahitan.
Bigeye Thresher Shark

A. Klasifikasi
Filum : Chordata
Kelas : Chondrichthyes
Sub–Kelas : Elasmobranchii
Bangsa : Carcharhiniformes
Suku : Alopiidae
Marga : Alopias
Spesies : Alopias superciliosus Lowe, 1840

B. Morfologi

  1. ekor bagian atas hampir sepanjang ukuran tubuhnya
  2. bentuk kepala hampir lurus di bagian antara mata, terdapat lekukan yang dalam di bagian tengkuk
  3. mata sangat besar, dengan bagian atasnya hampir mencapai bagian atas kepala
  4. sirip punggung pertama lebih dekat dengan sirip perut daripada ujung belakang sirip dada
  5. warna putih di bagian perut tidak melewati bagian atas dasar sirip dada

C. Habitat dan Penyebaran
Merupakan spesies ikan hiu oseanik yang hidup mulai dari perairan pantai hingga laut lepas, dari lapisan permukaan hingga kedalaman 600 m (White et al., 2006). Di perairan Indonesia, spesies hiu ini tercatat ditemukan di perairan Samudera Indonesia, mulai dari barat Sumatera hingga selatan Nusa Tenggara, Laut Pasifik, Selat Makassar, Laut Sulawesi dan Laut Banda.

D. Status
Di Indonesia, Alopias superciliosus sudah ditetapkan sebagai salah satu satwa yang dilindungi sejak tanggal 30 Juni 2012 dengan mengadopsi resolusi Indian Ocean Tuna Comission, IOTC 10/12; IUCN – Vulnerable.

E. Ancaman
Alopias superciliosus diketahui merupakan salah satu spesies ikan hiu yang tertangkap sebagai hasil tangkapan sampingan di dalam perikanan tuna dan pelagis besar. Secara umum telah terjadi penurunan populasi A. superciliosus secara global, terutama di wilayah perairan Samudera Hindia. Karena sifat biologi hiu yang pada umumnya berumur panjang, pertumbuhannya lambat, jumlah anak yang dihasilkan sedikit dan membutuhkan waktu yang lama untuk mencapai dewasa, maka keberadaan populasinya di alam sangat mudah terancam apabila terjadi tangkapan lebih (overfishing).

F. Saran
Diperlukan adanya pengawasan terhadap penegakan peraturan perundangan yang sudah dibuat dan peningkatan kesadaran bagi masyarakat nelayan untuk tidak melakukan penangkapan terhadap spesies ikan ini.

————————————————————————————————————————–

protect

Advertisements
 
 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: