RSS

Bantahan Pak Dodent Terkait Pemberitaan di Surat Kabar

16 Dec

Sehubungan dengan adanya pemberitaan tentang tudingan terhadap pak Dodent, maka pak Dodent bersama putranya.

Atas nama Mahyiddin (Dodent) selaku Direktur Utama PT. Rubiah Tirta dan Pemilik LSM ACC dan Yayasan Coral Oasis, menyatakan protes terhadap pemberitaan surat kabar edisi Kamis (15/12/2010), tentang ”Peraih Kalpataru Dituding Rusak Lingkungan”, ”Peraih Kalpataru Curi Terumbu Karang”. Surat kabar dinilai telah memberitakan berita yang bukan sebenarnya.

Dodent menyatakan apa yang diutarakan oleh Hasan Basri (Panglima Laot Lhok Sabang) pada Harian Aceh dan Metro Aceh : ”Kami menyita barang bukti 5 tong fiber penuh terumbu karang dan sejumlah perlengkapan, termasuk linggis”.

Dodent membantah : “Itu semua bohong, yang kami gunakan pada saat itu adalah kapak karang (pengganti gunting) bikinan sendiri dan keranjang“. (Foto Terlampir).

Inilah kebenarannya dituturkan oleh pak dodent bersama dengan putranya, antara lain :

Penuturan Dodent, sebelum hari nusantara telah berbicara langsung (lisan) dengan Panglima Laot Lhok Pasiran di pos Kodja Bahari Sabang pada jam 09.00 WIB malam tentang kegiatan pemindahan karang di Hari Nusantara. Beliau mengiyakan dan memberikan izin (lisan).

Terkait pemberian izin oleh BPKS yang disinggung oleh Kabid Standarlisasi Dampak Lingkungan Kota Sabang Amirza, SE. Pak Dodent hanya menginformasikan kepada Puddu Razak (staf BPKS) secara lisan niatnya agar terumbu karang disekitar pembangunan pelabuhan BPKS sudah bisa selamatkan. Begitu juga kepada pak Walikota Sabang.

Pada hari Nusantara, pak Dodent menyurati dinas-dinas terkait melalui surat pengatar dan proposal pada tanggal 6/12/2010. Begitu juga kepada LSM lingkungan dan para mahasiswa PTN/PTS melalui facebook yang dimuatkan oleh putra pak Dodent. Setelah pemuatan melalui facebook oleh putra pak Dodent, dari ODC Unsyiah, FFI, WCS berhalangan hadir ikut berpartisipasi.

Pada saat penangkapan, putra pak Dodent sedang memberikan statement kepada pak Anas, Panglima Laot Lhok Sabang dan anggota KAMLA tentang kegiatan Hari Nusantara. Pada saat itu pula mendengar berbagai komentar-komentar macam membalas dendam terhadap apa yang telah terjadi kepada mereka, salah satunya adalah : ”bot kami menjaring di iboih ditangkap, kalian harus ditangkap”. Lalu putra pak Dodent berkomentar : ”itu bukan urasan kami, itu antara Panglima Laot”. Terus ada yang mengatakan : ”kami tidak setuju dengan cara kalian, karang disini diambil dibawa ke iboih sedangkan kami mengambil ikan di iboih kok malah ditangkap”.

Putra pak Dodent menjawab : ”bila kalian tidak menerimanya kita putuskan pada saat duek pakat, apabila bahwasanya karang disini tidak boleh dipindahkan ya kami akan melaksanakan melakukan transplantasi disini”. Tetapi orang tersebut bersikukuh dengan mengatakan sudah basi.

Pada forum duek pakat di bale masyarakat Panglima Laot Lhok Sabang, memberikan pendapat bahwa pak Dodent sudah memberitahukan kepada saya. Tetapi kebohongan beliau tidak memberitahukan kepada masyarakat di sekitar pembangunan pelabuhan BPKS. Dari pihak DKP Kota Sabang mengatakan : “surat tersebut belum diproses karena bersifat proposal”. Dari pihak Bapedalkep Kota Sabang mengatakan : ”kami datang karena ada pelaporan dari masyarakat bahwasanya ada kegiatan pengambilan terumbu karang maka dari itu saya membawa mobil Lab untuk mengecek langsung apa jenis karang yang diambil”.  Dari anggota KAMLA mengatakan : “kami sangat mendukung kegiatan bapak pada Hari Nusantara”. Sedangkan pendapat dari masyarakat meminta surat izin tertulis dari pihak Panglima Laot Lhok Sabang, Walikota dan BPKS tentang kegiatan ini.

Pada saat azan siang berkumandang, pak Dodent mempersingkat waktu memberikan solusi dengan mengajak dan mengajarkan masyarakat setempat untuk transplantasi karang. Tetapi mereka tetap bersikukuh kami bersalah dan pak Dodent mengatakan : ”kita disini sama-sama salah, saya sendiri mengaku salah, terserah hukum adat yang putuskan untuk mencari solusi yang terbaik”. Oleh karena itu, Panglima  Laot Lhok Pasiran beserta perwakilan masyarakat duek rembuk untuk mencari solusinya. Setelah semuanya sepakat maka diputuskan boat milik pak Dodent ditahan 1 minggu atau denda 30 juta.

”Kalo itu sudah keputusan bersama maka saya akan penuhi”, tutur Dodent. ”Jangan lupa disiapkan surat perjanjian kedua belah pihak dan kwitansi”. Kata Dodent

Pada jam 16.00 WIB pak Dodent bersama putranya mendatangi kanto keuchik kuta timu untuk menyerahkan uang tembusan ke 2 boat milik beliau yang disaksikan langsung oleh pak keuchik. Namun karena para saksi-saksi ada yang belum menandatangani surat tersebut maka pak Dodent meninggalkan surat tersebut dikantor Keuchik selama tiga hari.

Pada tanggal 16/12/2010, putra pak Dodent mengambil surat perjanjian yang sudah ditandatangani oleh para saksi untuk diserahkan kepada pak Dodent.

Pak Dodent mengharapakan kepada Panglima Laot Lhok Sabang, KAMLA, Dinas Perikanan dan Kelautan, Dinas Bapedalkep Kota Sabang yang menjadikan saksi pada saat itu tolong memperbaiki Hukum Panglima Laot jangan menjadi sebuah hukum rampasan agar dikemudian hari menjadi acuan hukum yang sebenar-benarnya di kawasan Lhok Sabang.

Walopun media masa terus memuat berita tentang tudingan tersebut, pak Dodent tidak pantang mudur terus maju dan akan mengulangi aksi yang sama karena beliau terenyuh hatinya untuk mengambil pecahan karang diseputaran pelabuhan BPKS Sabang yang selama ini telah terlupakan oleh semua pihak.

Advertisements
 
 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: